SEKOLAH KRISTEN CALVIN

Alamat Kami :
Menara Calvin
Kompleks RMCI
Jln. Industri Blok B14 Kav - 1
Jakarta Pusat 10720
Telp : ( 021 ) 65867812
Faks. : ( 021 ) 65867813

 

beranda | publikasi

Cinta dan Cita

Sudah 66 tahun negara ini berdiri. Indonesia, dengan Pancasila sebagai jiwanya. Merah putih sebagai darah dan tulang bangsa. Bahasa Indonesia sebagai pemersatu rakyat. Rentetan sejarah yang berlalu dan terukir dalam sanubari membawa kita semua pada detik ini. Detik dimana Pancasila tidak lagi dipandang sebagai dasar negara, diinjak-injak dan ditinggalkan. Masa dimana bendera merah putih dirobek, dibakar, dan dibuang.

Saya sangat sedih ketika membaca kutipan pidato Sukarno pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945, “Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad ‘Merdeka, merdeka atau mati’!” Karena jika demikian, bangsa ini tidak merdeka. Bangsa ini kehilangan jiwa seperti itu.

Saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan, bendera merah putih dinaikkan, Pancasila dibacakan, hati siapa yang turut menggebu-gebu, tersenyum bangga terhadap Indonesia? Ketika beragam budaya dan keindahan Indonesia diapresiasi berbagai negara, siapakah yang peduli? Ketika melihat berbagai macam permasalahan dan kelemahan negara ini, siapa yang tidak hanya menggerutu namun berpikir apa yang dapat dilakukannya untuk negara? Kita semua tentu tahu jawabannya.

Tapi jangan berhenti di sana saja. Tulisan ini juga tidak bermaksud mematahkan semangat Anda atau membawa pesimistis dalam memandang bangsa dan negara ini. Ada segelintir orang aneh di tengah-tengah lautan manusia tanpa mimpi, apalagi mimpi untuk negaranya. Orang-orang ini bukanlah orang yang diperhatikan. Bahkan mungkin dianggap bodoh. Namun di tangan merekalah harapan terwujud. Di hati merekalah keberanian menderita untuk cita-cita itu ada. Bukan untuk apa-apa, selain perubahan lebih baik untuk negaranya.

Seorang yang memutuskan pergi ke pedalaman Papua, menjadi pendiri sekolah, kepala sekolah, guru, sekaligus yang merawat sekolah itu dengan banyak kesulitan. Ia harus berjuang setiap harinya  untuk menjangkau anak-anak, datang ke sekolah, dan memberi mereka pendidikan. Tidak jarang ia menghadapi panah orang tua murid jika anaknya mendapat nilai jelek. Sering ia kehilangan anak muridnya karena mereka tidak merasa perlu sekolah. Semua itu ia lakukan hanya karena ia tahu pendidikan itu penting. Karena ia punya mimpi untuk Indonesia.

Dalam hal seni, masih ada orang yang mengumpulkan wayang agar budaya tinggi itu tidak semakin pudar. Ada yang mempertahankan tarian daerah, musik daerah, teater, dan sebagainya. Dunia internasional mengakui keindahan budaya Indonesia, namun mereka tidak pernah diperhatikan di negaranya sendiri. Bahkan kita sendiri tidak tertarik untuk memelajarinya, bukan?

Orang-orang muda yang mendirikan beragam lembaga dan program untuk mendidik generasi muda, mengorbankan waktu dan tenaganya hanya untuk berbicara berkali-kali di depan banyak pemuda. Orang-orang yang memelajari dalam-dalam sejarah Indonesia, budaya Indonesia, dan ilmu-ilmu lainnya hanya untuk Indonesia lebih baik. Padahal mereka bisa saja menggunakan kepintaran dan waktu mereka untuk memperoleh pekerjaan yang menguntungkan mereka.

Juga orang-orang yang mengurus hal-hal yang ‘sepele’ dengan hati yang sangat besar. Orang-orang yang mengumpulkan anak-anak kecil untuk belajar bersama di kolong jembatan. Orang-orang yang datang ke desa untuk membangun desa, memberi keterampilan pada penduduk desa. Orang-orang yang terus memperjuangkan hak kaum tertindas yang tidak dianggap pemerintah. Dan orang-orang lain yang rela memeras diri demi mimpi untuk bangsanya.

Mereka tidak pernah tahu sebesar apa pengaruh mereka. Atau mungkin mereka melihat diri mereka sendiri melakukan hal yang sia-sia. Namun jiwa kebangsaan dalam hati mereka tidak padam. Terus berkobar. Bukan hanya memberi tenaga untuk mereka berjuang, tapi tanpanya hidup seolah remang dan hambar.  Cintai negerimu dan cita itu lahir.

"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita" — Soekarno.

Satu mimpi dan perjuangan mampu merubah Indonesia. Apa mimpi Anda?