SEKOLAH KRISTEN CALVIN

Alamat Kami :
Menara Calvin
Kompleks RMCI
Jln. Industri Blok B14 Kav - 1
Jakarta Pusat 10720
Telp : ( 021 ) 65867812
Faks. : ( 021 ) 65867813

 

beranda | publikasi

Saya ingin sekali menangis kalau sedang upacara bendera

Saya ingin sekali menangis kalau sedang upacara bendera.

Kalau baca buku atau nonton film, lalu ada cerita orang yang menangis saat sedang upacara bendera, sepertinya cool sekali. Saat itu biasanya lagu Indonesia Raya berkumandang dan bendera merah putih berkibar dengan latar langit yang biru. Tokoh utamanya dengan hormat memandang kepada bendera, dengan tangan yang tertempel di dahi dan wajah yang penuh khidmat, lalu ia berlinangan air mata. Aaaaaaaah keren sekali! Rasanya seluruh bulu kuduk langsung berdiri dan ingin bertepuk tangan.

Saya juga ingin seperti itu. Sangaat ingin. Saya juga ingin merasakan kerennya menangis saat upacara bendera. Orang yang menangis saat upacara bendera itu menurut saya adalah seorang nasionalis sejati yang sangat mencintai negara. Tetapi, setiap kali saya mengikuti upacara bendera, tidak pernah sedikit pun saya merasa terharu. Yang saya rasakan biasanya hanya rasa senang-senang bahagia tidak jelas yang membuat saya terus tersenyum walaupun tidak tahu apa penyebabnya. Aneh ya, memang. Intinya, saya penasaran. Mengapa orang bisa menangis saat upacara bendera? Bagaimana caranya? Apakah perasaan itu, yang sepertinya sangat overwhelming sehingga dapat membuat orang menitikkan air mata?

Di dalam cerita 5 cm yang ditulis oleh Donny Dhirgantoro, tokoh-tokoh ceritanya menangis saat upacara bendera di puncak Gunung Mahameru. Kalau di film Nagabonar Jadi 2 (semoga saya tidak salah ingat), Nagabonar menangis saat upacara bendera sebelum pertandingan sepak bola bersama anak-anak SD. Sementara itu, di artikel yang ditulis Herdi Hendrawan untuk Kompas, ia menangis saat upacara bendera tanggal 17 Agustus 2009 di Saudi Arabia. Tetapi, apakah puncak Gunung Mahameru yang membuat mereka menangis? Apakah saya harus ikut pertandingan sepak bola bersama anak SD baru saya akan menangis? Ataukah saya harus pergi ke Saudi Arabia dulu? Ya tentu saja tidak. Kalau saya coba lihat-lihat dan pikir-pikir, satu hal yang sama dari mereka semua adalah perjuangan. Mereka semua mengerti bagaimana sulitnya mengibarkan bendera merah putih, bahwa untuk memandang bendera merah putih berkibar di atas tiang, mereka harus mendaki Gunung Mahameru, tembak-tembakan dengan para penjajah, atau sembunyi-sembunyi dari pemerintah Saudi Arabia. Perjuangan, pengorbanan, dan penghargaan terhadap Sang Saka Merah Putih itulah yang mereka rasakan dan tidak pernah saya rasakan, tidak pernah sama sekali.

Saya lahir di zaman di mana Indonesia sudah merdeka, di mana sudah tidak ada penjajah yang datang dan menyiksa kita, di mana Pancasila dan UUD 1945 sudah ada, di mana teks proklamasi sudah selesai diketik oleh Sayuti Melik, di mana PPKI sudah tidak pusing-pusing rapat lagi, di mana Ibu Fatmawati sudah selesai menjahit bendera, di mana semuanya sudah…nyaman. Di mana untuk menghadiri upacara bendera saya hanya perlu pergi ke sekolah setiap awal bulan pukul 6.30 pagi. Di mana meneriakkan Indonesia Merdeka sampai seratus kali tidak akan dimasukkan ke kolam lintah oleh Belanda. Di zaman yang justru diimpi-impikan oleh orang-orang dulu, justru spirit-spirit perjuangan itu tidak dapat saya temukan untuk saya rasakan. Kalau seperti ini, saya jadi sangat iri dengan orang-orang zaman dulu. 

Saya ingin sekali menangis kalau sedang upacara bendera. Ingiin sekali. Bukan karena dipaksakan. Bukan karena supaya terlihat sebagai nasionalis sejati yang sangat mencintai negara. Tetapi, karena spirit perjuangan, pengorbanan, dan penghargaan yang begitu menyesakkan dada itu.