Allah yang Dihakimi

Kebaktian Persiapan Jumat Agung

 

Sebagai manusia kita kerap berhadapan dengan problem menghakimi dan dihakimi. Di satu sisi, yang menghakimi mungkin merasa layak untuk memberi penghakiman. Di sisi lain, yang dihakimi dapat merasa sebagai korban ketidakadilan. Namun, terlepas dari semua dinamika ini marilah kita bersama-sama merenungkan keagungan karya Kristus yang adalah Hakim Agung itu sendiri, tetapi memberikan diri-Nya dihakimi oleh pengadilan manusia yang korup.

 


Kebaktian Persiapan Jumat Agung – Playgroup & Pre-E
 ” Raja yang Mati dan Bangkit”
 Vik. Tanty Chen



Kebaktian Persiapan Jumat Agung – Kelas 1-3 SD
 “Yesus Memandang ke Yerusalem”
 Pdt. Amin Khouw



Kebaktian Persiapan Jumat Agung – Kelas 4-6 SD
 “Allah yang Dihakimi”
 Vik. Happy Manurung



Kebaktian Persiapan Jumat Agung – SMP, SMA & Umum
 “Allah yang Dihakimi”
 Vik. Jack Kawira

Judul “Allah yang dihakimi” itu paradoks. Bagaimana bisa Allah dihakimi?

Terlebih jauh lagi, siapa yang bisa menghakimi Allah itu sendiri?

(Filipi 2:5-6)

Kristus merendahkan diri-Nya bahkan sampai di kayu salib. Kristus tidak mengambil hak-hak mesias yang dimiliki-Nya. Bullying adalah salah satu hal yang sering terjadi di sekolah, bisa juga terjadi di keluarga. Dari sisi orang yang membully atau menghakimi dengan tidak bertanggung jawab kadang kala juga menjadi satu ironi karena seolah-olah manusia itu memiliki satu kuasa untuk memberikan penghakiman bagi sesamanya. Tetapi jika kita merenungkan di dalam Alkitab (Ibrani & Ulangan) bahwa yang memiliki hak untuk membalas itu hanya Tuhan. Jika hidup seperti ini kita meyakini bahwa kita tidak bisa hidup jika tidak melewati hukum rimba. Kita berusaha menjadi orang yang paling buas, paling gagah untuk bertahan hidup. Jika saya tidak melawan atau membalas, saya pasti mati. Apakah itu kalimat dari Firman Tuhan?

Allah yang adalah Allah dihakimi oleh manusia. Pada saat Ia dihakimi, Ia tidak langsung membalas. Ia membiarkan diri-Nya dianiaya. Tuhan tidak memakai hak yang Dia miliki, Dia membiarkan diri-Nya mati.

 

(1 Petrus 3:13-15)

Ketika kita menderita oleh karena kebenaran, maka itu adalah hak istimewa. Jemaat mula-mula sangat mengerti hal ini. Tetapi tidak lama setelah itu, pada zaman seterusnya sudah mulai bias dan rusak.

 

(Matius 26:57-68)

Tuhan Yesus dihadapkan di depan Mahkamah Agama. Imam Besar menjalankan Mahkamah Agama yang mempunyai otoritas tertinggi pada saat itu maka keputusan Imam Besar sangat berpengaruh besar.

 

(Kejadian 49:10)

Suatu ironi, Mesias yang dinanti-nantikan yang mempunyai kuasa penghakiman, Dialah yang dihakimi oleh yang tidak punya hak menghakimi. Mengapa orang-orang ini ingin membunuh Tuhan Yesus?

1.) Konflik pertama orang Sanhedrin: orang Sanhedrin ini yang menjalankan Bait Suci, maka kehadiran Tuhan Yesus menggeser mereka. Tuhan Yesus menghancurkan perdagangan di Bait Suci, itu akan menghancurkan pendapatan mereka.

2.) Popularitas Tuhan Yesus mengganggu orang Saduki. Satu orang berkhotbah, bisa mengumpulkan begitu banyak massa. Mereka memikirkan kenyamanan dan keamanan mereka sendiri.

3.) Orang Farisi dikenal sebagai orang saleh, tetapi semua itu pencitraan saja. Tuhan Yesus yang membuka topeng-topeng mereka. Kemudian di depan umum, Tuhan Yesus merevisi keahlian mereka.

 

Ketika kita mengikut dunia, kita akan sama dengan dunia. Kita akan mementingkan kenyamanan dan keamanan pribadi dibandingkan menderita dengan Allah.

Kristus tidak pernah kompromi, maka dari mana asal kita boleh kompromi?

Kita adalah kepunyaan Tuhan sendiri.

 

Pengadilan manusia kepada Tuhan:

1. Pengadilan tidak mampu menyatakan kesalahan Tuhan Yesus karena menggunakan saksi-saksi palsu. Mereka mengatakan bahwa Tuhan Yesus menistakan Bait Allah, tetapi mereka tidak tahu bahwa Tuhan Yesus sendiri adalah Baitnya. Mereka tidak mencari kebenaran.

(Ulangan 13:1-5)

Terakhir, seolah-olah Tuhan Yesus memberikan alasan ultimatum kepada orang-orang Sanhedrin untuk membunuh Tuhan Yesus. Tetapi yang Tuhan Yesus katakan adalah sesuatu yang betul-betul kebenaran dan Tuhan sudah siap menghadapi jalan salib itu. Itu bukan victim mentality, itu adalah hakim itu sendiri. Kemudian ketika Dia mengatakan kebenaran, pada saat yang bersamaan Ia mengonfirmasi kebobrokan pengadilan orang-orang Israel pada zaman itu. Sekarang kita merenungkan, kita sebagai pengikut Kristus punya identitas menyatakan kebenaran. Kita menjadi hakim yang memerintah bersama Kristus. Mulai dari kapan? Mulai dari sekarang dengan memberikan kesaksian kebenaran di dalam Tuhan.

Kristus mempunyai karakter yang kuat. Ia diludahi dan dipukul, dan sebagainya, ini tindakan bully yang skalanya jauh lebih sadis karena orang-orang niatnya mau membunuh.

 

(Yohanes 18:19)

2. Kalimat Tuhan Yesus itu ada kuasa, karena adalah kebenaran. Kenapa Tuhan Yesus dibawa ke Pilatus? Pilatus menyerahkan Tuhan Yesus kepada orang Israel kembali, namun orang Israel mengatakan bahwa mereka tidak boleh membunuh. Saat Pilatus memberikan pertanyaan kepada Tuhan Yesus, Ia menjawab dengan natur Kerajaan-Nya. Setelah bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus, Pilatus tidak menemukan kesalahan apapun. Jika begitu, mengapa Tuhan Yesus dimahkotai dengan mahkota duri? Pilatus menanyakan dari mana asal-Nya karena merasa gundah dan takut, dan ingin membebaskan Tuhan Yesus. Tetapi Kayafas mengatakan bahwa jika Pilatus tidak membunuh Tuhan Yesus, maka Ia bukan teman Kaisar. Kemudian Pilatus “mencuci tangan” dan akhirnya menyerahkan Tuhan Yesus untuk disalibkan. Pilatus memilih kenyamanan dan keamanan hidupnya.

 

Paulus mengatakan, pada akhirnya Tuhan Yesus mengalahkan orang mati dan bangkit kembali. Jika Kristus yang adalah Allah mendapat penghakiman sedemikian rupa, maka apa hak kita untuk kita menikmati segala jenis kenyamanan dunia? Biarlah saat kita melihat Kristus, kita memandang kembali penderitaan-penderitaan-Nya. Biarlah kita tidak kompromi dengan dunia, berhenti berbuat dosa, dan biarlah kita dipersiapkan sedemikian rupa menghadapi tantangan penderitaan karena kebenaran.

 

Ringkasan khotbah oleh TLG.

 

#SekolahKristenCalvin
#SekolahKristenLOGOS
#JumatAgung
#SekolahKehidupan
#MemperbaruiAkalBudi
#MembentukHati
#MenanamkanTanggungJawab

 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

//
//
Admin

Tim dukungan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!