SEKOLAH KRISTEN CALVIN

 

Alamat Kami :
Menara Calvin Lt.3
Kompleks RMCI
Jln. Industri Blok B14 Kav. 1
Jakarta Pusat 10720
Telp : (021) 658-678-12
    (021) 658-678-14
Faks. : (021) 658-678-13
HP :

087-8899-70000

humas@sekolahkristencalvin.org

beranda | berita | christian habits in digital society

Christian Habits in Digital Society

Ringkasan Seminar Orang Tua dan Guru Mei 2021

Pdt. Ivan Kristiono

 

Melalui Survey Lembaga Barna, mereka melakukan penelitian dengan sebuah pertanyaan: “Apakah menurut Anda, mendidik, melakukan parenting di masa ini lebih sulit dibandingkan di masa sebelumnya?”. Mayoritas yang di-survey mengatakan; Parenting sekarang lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah “Kesulitan apa yang menyebabkan menjadi lebih kompleks?”. Ada banyak jawaban, salah satunya yang paling tinggi jawabannya adalah karena teknologi, khususnya teknologi informasi. Ini merupakan kesulitan orang tua saat ini dan kita sebagai orang Kristen dalam bergumul mengenai ini.

 

Neil Postman, ahli ekologi media, Ia menulis sebuah buku yang berjudul “Technopoly”. Neil Postman membuka bukunya dengan kisah Plato. Plato menulis buku berjudul “Phaedrus”, yang di dalamnya ada percakapan antara Thamus (Raja) dan Theuth (Dewa, penemu). Theuth bertemu dengan Thamus dan menceritakan penemuan-penemuan barunya dengan antusias, di dalam hal bilangan, trigonometri, dsb. Lalu ia masuk ke dalam penemuan barunya yaitu tulisan, itu mengagetkan Thamus. Theuth mengatakan dengan positif bahwa jika saya mengemukakan tulisan ini kepada masyarakat, maka pengetahuan akan dapat disimpan. Ini adalah sebuah terobosan, penemuan besar yang akan mengubah dunia. Tetapi Thamus tidak terkesan sama sekali dengan penemuan itu. Thamus mengatakan bahwa Theuth harus berhati-hati karena penemuan ini sangat berbahaya. Kenapa? Karena tulisan ini akan mengakibatkan daya ingat bangsa kita menurun. Dengan adanya tulisan, orang-orang tidak lagi memakai memorinya dan membuat orang-orang menjadi malas. Ada bahaya dalam teknologi ini.

 

Di sini kita bisa melihat ada 2 perspektif: Theuth yang optimis melihat teknologi dan Thamus yang skeptis melihat teknologi. Melalui kutipan dari kisah ini, Neil Postman, dijelaskan bahwa ada 2 pendekatan yang dilakukan manusia terhadap teknologi.

 

(1) Technophobia: Bersifat antipati dan senantiasa curiga. Takut terhadap teknologi baru. (Refer to Thamus)

(2) Technophilia: Orang yang demikian positif terhadap teknologi baru. Jalan keluar dari pada kesulitan dunia adalah penemuan teknologi. Maka teknologi harus semakin canggih dan semua permasalahan teknologi, hanya bisa diselesaikan oleh teknologi. (Refer to Theuth)

 

Tentu kita sebagai orang Kristen tidak boleh menjadi Technophobia. Karena kita percaya bahwa kita dipanggil oleh Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi dunia ini. Termasuk bagian kita untuk mengerjakan sains dan teknologi, sehingga kita secara aktif untuk menciptakan teknologi. Namun kita juga tahu, bahwa teknologi dibuat oleh manusia, dan manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Maka ada dampak negatif dari teknologi. Kita percaya bahwa teknologi itu baik, tetapi kita juga percaya bahwa ada bagian yang harus diwaspadai dari teknologi. Kita harus ada di posisi tengah.

 

Bagaimana kita menempatkan teknologi?

Ketika kita percaya kepada Tuhan melalui iman kita, ketika kita menerima Kristus ke dalam hati kita, maka Kristus masuk dan mengubah seluruh hidup kita.

 

Kebiasaan-kebiasaan yang muncul ketika kita beriman kepada Tuhan (Christian Habits):

(1) Evangelism: Membagikan kabar baik Firman Tuhan.

(2) Character: Karakter kita diubah.

(3) Meditate/study: Bertumbuh di dalam Firman Tuhan melalui membaca dan mempelajari Alkitab.

(4) Praying: Kebiasaan berdoa.

(5) Fellowship: Bersekutu, dibiasakan untuk datang ke tempat ibadah dan bersekutu dengan yang lain.

(6) Serving: Saling melayani satu dengan yang lain.

(7) Giving: Belajar memberi.

(8) Counsel: Memberikan bimbingan satu dengan yang lain.

 

Jadi bagaimana kita menempatkan teknologi?

Tempatnya adalah perpanjangan atau magnifikasi dari habit/kebiasaan kita.

 

Teknologi adalah bagian dari alat. Alat adalah sesuatu yang kita pakai untuk memperpanjang atau magnifikasi (memperbesar) kemampuan kita. Alat untuk diperalat, manusia bukan alat. Tujuannya adalah supaya dapat menyelesaikan masalah. Contoh, kacamata membantu kita untuk membaca, transportasi membantu kita untuk pergi satu tempat ke tempat yang lain, dsb.

 

Pertanyaannya selanjutnya adalah, apakah teknologi itu membuat kita mundur dan manja?

Kita melihat, hilangnya satu kemampuan bukan membuat kita menjadi manja karena tantangannya yang dihadapi setiap zaman itu kemungkinan berbeda. Contoh, dulu kalau mau ke Surabaya perlu waktu lama, tetapi sekarang hanya dengan 1 jam 20 menit sudah bisa sampai ke Surabaya dan bisa pulang lagi. Apakah dengan demikian akan menjadi lebih manja? Tidak. Karena urusan akan menjadi lebih banyak. Jadi tidak tentu teknologi akan membuat kita menjadi manja dan mundur, karena ada tantangan yang besar yang tetap membuat kita tidak bisa bersantai. Jadi bagi orang Kristen, kita tidak anti teknologi, karena kita tahu bahwa kita dipanggil untuk mengerjakan tantangan yang besar dan teknologi itu menjadi bagian untuk kita peralat untuk mempermudah, memperlancar, memperkuat Christian habits kita. Alat seperti itu tidak menghancurkan habit dan value, bahkan tidak menghancurkan faith. Ini adalah tool using culture, menurut Neil Postman.

 

Tetapi ada masalah, ketika kita membuka hidup kita bagi sosial media, digital media, dan sebagainya, dia juga masuk ke dalam seluruh hidup kita. Dia meminta izin atau setengah maksa masuk ke dalam seluruh hidup kita. Kita dipelajari, apa yang kita suka, kebiasaan kita, dsb, dan seringkali kita diubah. Menurut Neil Postman, tahap setelah tool using culture, perlu hati-hati karena manusia masuk ke dalam tahap teknokrasi. Apa itu? Teknokrasi adalah tahap di mana alat itu sekarang tidak dipakai berdasarkan value, tetapi alat itu bisa menyerang habit kita dan menyerang iman kita. Ia memberikan 3 contoh:

(1) Jam mekanik. Jam mekanik pertama kali ditemukan oleh biarawan Benedictus, yang tujuannya untuk mengingatkan waktu doa. Jadi jam mekanik pertama kali dibuat untuk mengingatkan kebiasaan berdoa. Lalu kemudian jam mekanik akhirnya berkembang di pabrik. Sehingga apa yang tadinya dibuat untuk mengingatkan manusia akan Tuhan, menjadi akhirnya mengingatkan akan waktu dan uang.

(2) Percetakan. Gutenberg adalah orang yang menemukan percetakan, yang saat itu dibuat supaya imannya disebarkan kepada banyak orang. Namun kemudian alat itu digunakan untuk reformasi berjalan yang menghantam iman dari Gutenberg itu sendiri.

(3) Teleskop. Implikasi dari teleskop menjadi tidak netral. Teleskop ditemukan untuk kita bisa mempelajari sains, tetapi setelah itu ditemukan penemuan bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi, tetapi bumi mengelilingi matahari. Ketika temuan ini ditemukan, orang mempertanyakan proposisi teologi yang dianut gereja pada masa itu. Ini membuat wibawa dari gereja dipertanyakan.

 

Alat menyerang kebiasaan, lalu menyerang iman.

 

Tahap berikutnya setelah tahap teknokrasi, yaitu tahap technopoly. Tahap technopoly adalah tahap teknokrasi yang sudah menguasai seluruh ideologi secara dominan sehingga seluruh kebudayaan itu tunduk kepada teknik dan teknologi. Ini membuat orang-orang melupakan spiritualitas. Neil Postman mengatakan bahwa sekarang otoritas sains lebih dipercaya ketimbang otoritas Tuhan.

 

Alat menyerang budaya, lalu menyerang state of mind. Cara berpikir berubah akhirnya kita mempunyai kebiasaan baru yang memengaruhi kita dalam beraktivitas.

 

Kebiasaan digital menghasilkan

(1) Instant Gratification: Mencari hal yang cepat dan instan.

(2) Constant distraction: Terpaksa memakai apa yang orang lain pakai, distraksi sosial media, dsb.

(3) Narcissistic behaviour: Perilaku narsis.

(4) Anonymity: Berpendapat apapun tanpa filter.

(5) Entertainment paradigm: Semua harus menghibur dan atraktif, termasuk di gereja.

(6) More than reality: Melihat sesuatu lebih indah daripada aslinya, sehingga membuat orang tidak lagi mau melihat kenyataan.

(7) Over stimulation: Stimulasi cepat, menerima banyak dengan cepat. Sehingga muncul kebosanan.

(8) Spectacle culture: Sesuatu yang meriah dan menarik.



Ada begitu banyak hal-hal analog di dalam gereja yang bisa membangun kebiasaan Kristen. Kita tidak bisa menghindari dunia digital, yang bisa kita lakukan adalah rehabituasi. Kita perlu adanya counter habit, sehingga teknologi itu menjadi perpanjangan bukan sesuatu yang mendefinisikan dan menyerang kebiasaan dan iman kita.

 

Apa yang bisa kita lakukan?

 

Albert Borgmann, seorang filsuf, seorang pemikir Amerika. Ia menggagas “The Culture of Word and Table” (Word: Firman, Table: Perjamuan Kudus).

Ia mengatakan begini, budaya kontemporer itu meletakkan teknologi dan konsumerisme sebagai pusat di dalam kehidupan kita dan ini bisa menghancurkan kita. Ia mengatakan kalau kita memperhatikan rumah, seorang desainer interior memikirkan pusat dari rumah. Lalu setelah menentukan pusat dari rumah itu, desain dan interior akan didesain mengikuti pusat itu. Seringkali rumah modern, yang menjadi fokus atau poin adalah televisi. Secara tidak sadar, dunia digital sudah menjadi hal yang sentral sehingga seluruh gaya hidup yang lain diatur berdasarkan itu.

 

Albert Borgmann mengajarkan beberapa hal yang disebut focal living, aktivitas-aktivitas apa yang bisa menjadi counter habit.

(1) Pilihlah aktivitas yang membutuhkan disiplin, usaha, fokus dan menumbuhkan karakter dan mendapatkan hasil. Aktivitas yang demanding tetapi rewarding. Contoh, belajar main piano dengan proses latihan-latihan, menari, melukis, menjahit, memasak, membuat kue, berkebun, merangkai bunga, membuat model pesawat, hiking, olahraga, puisi, membaca, dsb.

(2) Tindakan-tindakan yang mengaitkan kita dengan orang atau ekosistem atau tradisi. Tindakan yang membawa kita membangun relasi: engagement, feeling, intelect, spirit, solve involvement, & interwoven. Misalnya belajar memasak bisa mengaitkan kita dengan anak, tradisi, dsb.

 

Ringkasan oleh TLG.