Elia & Peperangan Rohani di Karmel

Ibadah Gabungan Juni 2021
Pdt. Ivan Kristiono

(1 Raja-raja 18:16-19)

Akhirnya Tuhan mempertemukan dengan Ahab setelah Elia diproses oleh Tuhan. Ketika kita bertobat terima Tuhan Yesus, kita ingin langsung jadi orang rohani, langsung dipakai oleh Tuhan. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa hal itu memerlukan proses yang begitu panjang. Sebagaimana bayi bertumbuh, ada yang bisa lebih cepat berjalan, ada yang cepat berbicara, semua berbeda-beda. Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita. Seringkali kita mengalami proses, bahkan proses yang tidak menyenangkan supaya kita sampai kepada suatu titik. Seperti Elia, ia akhirnya mencapai titik menghadapi Ahab dan ratusan nabi baal.

 

Saat seorang anak pertama kali digigit semut, ia menangis. Kemudian saat sudah dewasa, ia sudah biasa dan tidak menangis lagi. Kenapa? Karena mungkin ia sudah pernah digigit yang lain yang lebih sakit. Jadi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam hidupnya, pelan-pelan, ia menjadi tidak takut menghadapi hal yang kecil. Maka anak-anak sekalian, tidak perlu takut jika kesulitan tiba di dalam hidup kita. Orang juga perlu belajar gagal. Jangan takut gagal. Engkau harus belajar menghadapi kegagalan. Jangan kira hidup lancar terus itu baik. Pada waktu kesulitan tiba, hilang. Iman juga demikian. Tidak pernah bergumul, lancar terus imannya. Kemudian ada kesulitan tidak bisa menghadapi kesulitan itu, lalu pergi meninggalkan Tuhan. Jadi jangan takut menghadapi kesulitan demi kesulitan. Belajarlah bersama dengan Tuhan menghadapi kegagalan-kegagalan. Dari situlah kita belajar menjadi kuat yang diproses oleh Tuhan.

 

Seperti Elia sekarang berhadapan dengan Ahab dan ratusan musuh Tuhan. Ahab menuding Elia sebagai pembawa masalah: hujan tidak turun dan ada penderitaan. Penderitaan apa? Ahab bahkan tidak peduli dengan rakyatnya. Pada waktu rakyatnya kekurangan makanan, yang ia pikirkan adalah mencari makan untuk kudanya. Ia hanya memperdulikan reputasinya. Ia malu jika kalah. Ia menjadi marah kepada Elia.

 

Marah itu harusnya mengekspresikan hati Tuhan. Ada marah yang berdosa dan tidak berdosa. Maka di dalam kitab suci dikatakan bahwa jikalau engkau marah, jangan sampai engkau berdosa. Ayat ini mengindikasikan bahwa jika kita marah, kita bisa berdosa, tetapi juga bisa tidak berdosa. Salah jika mengatakan kalau semua marah itu berdosa. Itu bukan ajaran Alkitab. Allah itu suci, Allah itu baik, Allah itu benar, dan Alkitab mencatat Allah itu marah. Ini berarti ada marah yang baik, benar dan kudus. Contoh, kemarahan Elia, kemarahan Musa, dst. Tetapi kemarahan Ahab bukan seperti itu. Ia marah bukan karena ketidakadilan.

 

Ada orang marah karena takut dihukum, karena menyembunyikan kesalahan. Tipe marahnya Ahab adalah marah karena egois, dia merasa tidak pernah salah. Ia merasa semuanya adalah kesalahan orang lain dan menuding Elia. Elia tidak mau mengikuti dramanya Ahab, kemudian Elia membalas, “Bukan, kamu yang membawa masalah. Kamu menyimpang dari hukum Tuhan. Engkau dan seluruh bangsa ini harus dihukum oleh Tuhan.”

 

Peristiwa Elia melawan nabi baal terjadi di gunung Karmel, di daerah utara, Israel. Kalau kita pergi ke Karmel, maka kita bisa melihat pemandangan yang begitu luas karena Karmel kira-kira 1500 di atas permukaan laut. Kalau pergi ke Karmel sekarang, di situ ada sebuah kapel yang didirikan oleh ordo Karmelit. Di depan kapel itu ada patung Elia sedang membawa pedang menginjak kepala dari musuh-musuh Tuhan. Biara itu disebut Deir Al-Mukhraqa. Saya ingat kami pernah meminjam kapel tersebut untuk ibadah. Waktu saya berkhotbah di sana pintu dibuka, persis di depannya terlihat patung Elia sedang membawa pedang. Waktu khotbah dalam hati, ini begitu serius apa yang terjadi di tempat ini. Elia melawan orang-orang yang dipakai setan untuk menghancurkan umat Tuhan. Ini peperangan yang sangat serius.

 

Orang-orang Israel dicatat oleh Elia sebagai orang-orang yang mendua hati. Mereka timpang. Tuhan iya, berhala iya. Ingat di dalam kitab Ulangan, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu.” Mencintai Tuhan total. Tetapi Israel tidak mau. Saat Elia memerintahkan untuk memilih, Tuhan atau berhala, mereka diam tidak ada jawaban. Mereka ragu.

Dulu mereka sudah diperingatkan oleh Yosua. Orang Israel berjanji untuk menyembah Tuhan. Bertahun-tahun kemudian mereka lupa dan mendua.

 

Elia mewakili Tuhan berhadapan dengan nabi palsu. Elia memanggil mereka, untuk membandingkan 2 macam ibadah: ibadah yang diinisiasi oleh Tuhan dan ibadah palsu dari pada berhala. Mereka menari-nari, berjingkat-jingkat, tetapi tidak ada yang menjawab. Elia mau menunjukkan kesia-siaan mereka. Mereka kira bisa mendapatkan sesuatu dari apa yang mereka puja, tetapi akhirnya mendapatkan kekosongan karena allah mereka adalah allah yang tidak menjawab. Tuhan yang tidak ada. Ibadah yang kosong. Kemudian Elia memanggil mereka untuk mendekat, mengingatkan kita saat Tuhan memanggil “Datanglah engkau yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan sabat kepada engkau.”

Elia memanggil lalu mendirikan altar dari 12 batu, mengingatkan perjanjian Tuhan dengan Israel. Ia menata mezbah, lambang restorasi Israel yang sudah terpecah. Dan Tuhan menjawab. Di sini, Tuhan adalah Tuhan yang menjawab.

Orang-orang tidak menjawab, dewa-dewa mereka diam tidak menjawab, tetapi Tuhan menjawab. Tuhan terlebih dahulu berbicara kepada mereka sehingga orang Israel bisa menjawab Tuhan. Persembahan sudah ada, mezbah sudah disiapkan. Mereka menanti api dari Tuhan. Mereka menantikan kebangkitan rohani. Tetapi apinya tidak boleh dari manusia. Ini yang diajarkan oleh kitab Suci.

 

Pada zaman ini apa yang bisa membuat orang-orang bertobat? Kuasa entertainment, ibadah yang meriah supaya orang datang kenal Tuhan Yesus? Bukan dengan entertainment. Dengan uang? Bukan. Kuasa kepintaran? Kuasa organisasi? Bukan dengan kuasa manusia. Tetapi karena kuasa Tuhan. Api itu dari Tuhan, bukan api kotor dari manusia.

 

Anak-anak, Elia menjadi sangat penting karena Elia menjadi penutup kitab Suci Perjanjian Lama. Kembali maju ke depan, kita lihat Kitab Maleakhi 4:4-6. Empat ratus tahun tidak ada suara, tidak ada nabi, tidak ada Firman. Jadi ditutup dengan pengharapan. Mereka kembali kepada Tuhan. Elia menjadi kunci eskatologi. Alkitab mencatat Elia terangkat ke surga, sehingga banyak yang menantikan kedatangannya. Tetapi kemudian Elia datang pada masa Yohanes Pembaptis. Bukan reinkarnasi, tetapi di dalam pelayanan Yohanes Pembaptis. Lihat Lukas 1. Jelas sekarang dalam Perjanjian Baru, bahwa Elia akan datang kembali. Siapa Elia yang datang kembali itu? Alkitab mencatat, Elia yang datang kembali itu Yohanes Pembaptis. Nanti dari mulut Tuhan Yesus sendiri muncul kalimat bahwa Elia adalah Yohanes Pembaptis. Tidak heran, kita melihat adanya kesamaan-kesamaan antara Elia dan Yohanes Pembaptis. Bahkan bajunya pun sama. Yohanes sama beraninya dengan Elia: menegur orang-orang yang menyimpang. Ada perbedaan juga. Yohanes tidak melakukan mujizat, Elia melakukan. Tetapi apa yang dikatakan Yohanes tentang Yesus itu benar dan orang-orang percaya kepadanya. Jadi Yohanes mempunyai roh dan kuasa Elia meskipun tidak menyatakan mukjizat seperti Elia.

 

Kemudian kita melihat, di dalam Matius, Markus dan Lukas (khususnya Lukas 9), Elia sungguh muncul di dalam peristiwa transfigurasi. Pada pasal 9 ini, peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang. Setelah itu ada pengakuan Petrus. Setelah itu, Yesus menyatakan mengenai penderitaannya, dan Yesus dimuliakan di atas gunung (transfigurasi). Pada waktu transfigurasi itu Tuhan Yesus berbicara dengan Musa dan Elia. Kenapa Musa dan Elia? Musa mewakili taurat, Elia mewakili nabi-nabi. Baik taurat maupun nabi-nabi, menunjuk kepada Kristus. Percakapan mereka ada di ayat 28. Pada ayat 31, keduanya (Musa dan Elia) berbicara tentang kepergiannya (Exodus). Menarik ya. Apa itu Exodus? Kitab Keluaran. Musa sedang berbicara kepada Yesus tentang Keluaran. Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, dan sekarang Musa berbicara tentang Keluaran (Exodus) yang sejati. Exodus-nya Musa itu hanya bayang-bayang, dari Exodus yang sejati yang sekarang Musa sedang berbahagia bicara mengenai penggenapan Exodus itu. Karena Yesus lebih besar dari pada Musa. Penggenapan itu ada pada salib yang mengeluarkan manusia dari dosa, masuk ke dalam tanah Perjanjian dan menyembah Tuhan senantiasa.

 

Hal yang kita bisa pelajari, Yesus itu menampakkan kemuliaan-Nya. Kemudian, murid-murid bangun karena kemuliaan-Nya. Musa dan Elia melihat kemuliaan Tuhan, lewat Kristus. Siapapun yang melihat Tuhan mati karena berdosa, tetapi melalui Kristus, orang melihat Tuhan dan tidak mati.

 

Dari sini kita bisa melihat adanya persamaan di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ada yang sama, ada yang beda. Bedanya apa? Pada saat Elia meminta Tuhan menurunkan api, api turun. Tetapi saat murid-murid meminta api, Tuhan marah. Elia ketika berdoa supaya api turun dari langit, itu adalah api penghakiman untuk dosa mereka: menyembah berhala, tidak mau taat kepada Tuhan, terus menyakiti hati Tuhan. Sekarang di dalam kasus Yesus, Yesus sedang di dalam perjalanan Exodus untuk menuju kayu salib. Dari situ Ia mengajar kepada murid-murid-Nya apa arti menjadi murid. Menjadi orang Kristen bukan menjadi orang yang kuat, berkuasa, tetapi menjadi orang Kristen yaitu belajar dari anak kecil, memberikan dirinya, berkorban. Api itu tidak turun kepada orang-orang yang akan dihukum. Api yang pernah turun di Karmel adalah api yang nantinya akan turun di Golgota. Kenapa di Samaria Tuhan tidak mengizinkan api turun dari langit? Karena Ia sedang dalam narasinya menuju ke Golgota dan di situlah api Tuhan akan turun. Ia menerima penghukuman bagi umat manusia.

 

Tuhan adalah Tuhan yang menjawab dan memberi kebangunan. Ketika Yesus menanggung hukuman di atas kayu salib, menanggung untuk kita semua. Ada seorang serdadu Romawi yang melihat dan mengatakan, “Ya, benar-benar Dia adalah sungguh Anak Allah.”

 

Ringkasan oleh TLG.


 

Ibadah Gabungan Sekolah Kristen Calvin dan Sekolah Kristen Logos
Rabu, 9 Juni 2021

ELIA DAN PEPERANGAN ROHANI DI KARMEL
dibawakan oleh Pdt. Ivan Kristiono

 

Kanal Youtube SekolahKristenCalvin
https://youtube.com/SekolahKristenCalvinJakarta/

Sekolah Kristen LOGOS
https://www.youtube.com/c/SekolahKristenLOGOS/

 

#IbadahGabungan

#SekolahKristenCalvin

#SekolahKristenLOGOS

#SekolahKehidupan

#MembentukHati

#MemperbaruiAkalBudi

#MenanamkanTanggungJawab

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

//
//
Admin

Tim dukungan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!