Menabur Hikmat Menuai Hiburan

Seminar Orang Tua dan Guru
Pdt. Jimmy Pardede

[Amsal 3:1-6]

[Amsal 9:10]

 

Orang berhikmat bukanlah orang yang mempunyai IQ tinggi, terdidik, atau pandai. Hikmat menurut Alkitab itu berarti senantiasa melihat Tuhan di dalam setiap bagian hidup. Hikmat menurut Amsal 3:

  1. Hikmat adalah ajaran (teaching). Tuhan mengajarkan kita supaya kita senantiasa melihat bagaimana segala sesuatu seharusnya berjalan. Ketika segala sesuatu berjalan sesuai kehendak Tuhan, segala sesuatu itu menjadi baik. Jadi, ini merupakan tafsiran dari kebaikan, yaitu berfungsi seperti yang diintensikan. Umpama, sebuah pulpen berfungsi untuk menulis, menulis itu fungsi yang benar, tetapi jika kita menggunakan pulpen untuk memanah, itu bukan fungsinya. Pulpen akan menjadi rusak jika digunakan untuk memanah. Maka, ketika kita tidak bertindak sesuai dengan apa yang diintensikan Tuhan, kita sedang merusak diri. Manusia seharusnya mempunyai kesadaran untuk bertindak atau berlaku sesuai dengan kehendak Tuhan. Manusia harus mengerti bahwa di tengah kebebasannya, ia harus melakukan apa yang diintensikan Tuhan kepadanya. Untuk itu, manusia harus senantiasa diberikan pengajaran.

 

Menurut Amsal, kebodohan adalah melibatkan Tuhan seminimal mungkin di dalam aspek kehidupan. Kebodohan ini harus dilawan. Tuhan terlibat aktif dalam segala sesuatu! Contohnya, dalam acara panggung boneka, boneka tersebut tidak bergerak sendiri, ada tangan-tangan yang menggerakkan dan mulut yang menyuarakan suaranya. Demikian juga dengan alam semesta. Alam semesta tidak bergerak menurut ketentuannya sendiri, alam semesta bergerak menurut kehendak Tuhan. Menjadi berhikmat yaitu mengetahui hal ini sebagai hal yang dasar.

 

Hal yang dapat mematikan iman:

  • Memahami manusia dari hukum alam dan memutlakkan kesimpulan yang didapat dari sains. Kita sudah mempunyai ilmu pengetahuan dan dari situ kita memahami bagaimana alam beroperasi. Ini akan mematikan iman kita karena kita tidak melihat hal yang melampaui ilmu alam atau sains. Apa itu? Yang melampaui hukum alam, yaitu tindakan Tuhan yang memelihara ciptaan-Nya. Jika kita tidak mempunyai gambaran besar ini, maka apapun yang kita tafsirkan dari alam akan sangat mungkin salah maknanya. Kita terbiasa untuk menafsirkan alam sebagai alat untuk kebutuhan kita. Jika pengertian kita terhadap alam begini, maka kita tidak butuh Tuhan karena kita hanya butuh alam. Menurut kitab Amsal, ini kebodohan jika melihat alam sebagai “guna” bagi diri. Mengapa? Karena kamu akan berhenti pada kebutuhan diri. Kebutuhan diri itu apa? Sekedar cari makan untuk bertahan diri, perlu alat untuk memenuhi hidup? Tidak, kebutuhan diri manusia tidak hanya itu saja. Kebutuhan kita salah satunya adalah untuk menyembah. Kita diciptakan untuk sujud kepada Tuhan. Jika kita gagal sujud kepada Tuhan, kita kehilangan kemanusiaan kita. Ini yang disebut bodoh oleh Amsal. Jika kamu tidak takut akan Tuhan, kamu itu bodoh. Kenapa? Karena kamu mengabaikan hal yang paling penting dalam kehidupan manusia.

 

Cara untuk berubah dari cara pandang yang pertama (meminimalkan Tuhan dalam melihat alam) yaitu diubah dengan cara pandang kedua yaitu berhikmat. Bagaimana cara berhikmat? (1) Mengakui Allah di dalam segala lakumu, sebagai pemilik dari segala sesuatu dan sebagai yang terlibat dalam segala aspek kehidupan, (2) Menyadari bahwa Allah itu mempunyai cara untuk memelihara ciptaan dan cara itu yang diwujudkan di dalam Firman Tuhan.

Ajaran itu diingat dan dipelihara di dalam hati. Apa maksudnya dipelihara di dalam hati? Maksudnya adalah mereaksikan apa yang engkau alami dengan mengaitkannya dengan Firman Tuhan. Misalnya kita melihat orang miskin, bagaimana reaksimu? Memberi makan untuk yang lapar, membantu yang sakit. Ini reaksi yang sesuai dengan Firman Tuhan. Di dalam budaya Yahudi, menyimpan di dalam hati sama dengan bertindak. Bertindak atau bereaksi sesuai Firman Tuhan.

Sebagai penutup, ayat yang ke 5-6, pembentukan hikmat ini adalah pekerjaan Tuhan dan yang perlu kita kerjakan adalah konsistensi untuk bereaksi dengan tepat sesuai dengan yang Tuhan mau. Tuhan yang akan memurnikan dan menyempurnakan hikmat di dalam diri kita. Makna atau faedah berhikmat tidak kita lihat atau kita nikmati sekarang, namun percayalah bahwa Tuhan akan memberikan shalom kepada umat-Nya. Kemudian jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri, maksudnya jangan simpulkan apa-apa di luar janji Tuhan, jangan simpulkan sendiri keadaanmu. Kenikmatan hikmat akan kita nikmati suatu saat. Akuilah Tuhan dalam segala lakumu dan jangan lupa untuk mentuhankan Tuhan di dalam segala aspek hidup.

Takutlah akan Tuhan dan biarlah Tuhan memimpin jalanmu.

 

Ringkasan oleh TG.

 


 

Seminar Orang Tua dan Guru Sekolah Kristen Calvin dan Sekolah Kristen Logos dengan tema
“MENABUR HIKMAT MENUAI HIBURAN”
Pembicara: Pdt. Jimmy Pardede

Rabu, 20 November 2021
Pkl. 16.00 WIB

Live di kanal Youtube
Sekolah Kristen Calvin
https://www.youtube.com/c/SekolahKristenCalvinJakarta/
Sekolah Kristen LOGOS
https://www.youtube.com/c/SekolahKristenLOGOS/
———–
#IbadahGabungan
#SekolahKristenCalvin
#SekolahKristenLOGOS
#SekolahKehidupan
#MembentukHati
#MemperbaruiAkalBudi
#MenanamkanTanggungJawab

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

//
//
Admin

Tim dukungan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!