Menerobos Penghalang Komunikasi dengan Remaja

Seminar Orang Tua dan Guru – Juli 2021
Pdt. Michael Densmoor


 

Relasi orang tua dan anak dulu berjalan dengan baik, lalu semua berubah karena anak kita menjadi remaja. Hal yang wajar jika hubungan orang tua dan anak terjadi guncangan-guncangan ketika anak bertumbuh remaja. Hari ini saya mau menyampaikan suatu kabar gembira, bahwa sangat mungkin anda mempunyai hubungan baik dan positif dengan anak remaja, sehingga ketika mereka bertumbuh dewasa, hubungan itu menjadi lebih baik. Tetapi kita harus mengakui bahwa ini merupakan suatu masa yang penuh pergumulan dan kesulitan. Saya bisa kaitkan kesulitan ini dengan pandemi virus masa remaja. Saat anak remaja melihat orang tua, mereka pikir orang tua itu menyebalkan sekali. Seorang remaja sedang berubah secara drastis, sedangkan orang tua tidak berubah. Anak yang bertumbuh remaja mengalami perubahan secara lahiriah, fisik, dan juga psikologi. Anak mengalami perubahan, tetapi orang tua tetap sama. Pandemi virus masa remaja ini senantiasa membuat anak menolak orang tua dan membuat orang tua merasa tidak tenang.

 

Pada umumnya terjadi 4 gejala besar yang dialami remaja yang terpapar virus masa remaja:

  1. Gejala memberontak. Anak-anak mengalami perubahan dari dependen menjadi independen. Mereka ingin mandiri di dalam segala sesuatu, namun mereka belum siap. Ketika dalam situasi ini mereka bertemu orang tua, mereka cenderung akan menolak orang tua. Orang tua menjadi penghalang bagi mereka untuk mencapai cita-cita mereka untuk menjadi dewasa. Anak sudah memberontak bahkan ketika orang tua tidak melakukan apa-apa. Ini yang harus kita lihat dan mengerti, bahwa gejala ini akan dialami oleh setiap anak.
  2. Gejala alergi kepada orang tua. Untungnya gejala ini hanya terjadi sebentar saja. Ini menyebabkan mereka menjauhkan diri dari orang tua. Setiap remaja tidak hanya memberontak atau melawan, tetapi seolah-olah juga mau lari dari orang tua mereka. Bentuk manifestasi terhadap anak laki-laki dan perempuan berbeda. Laki-laki cenderung menyendiri di kamar atau keluar dari rumah. Perempuan akan sering konfrontasi dengan orang tua seperti membanting pintu.
  3. Gejala suka membantah. Mereka akan berargumentasi dengan pendapat orang tua. Ketika orang tua berkata ‘tidak’, mereka mati-matian membantah supaya orang tua mengubahnya menjadi ‘ya’. Mereka ingin membuktikan kemandirian mereka.
  4. Gejala cepat emosi. Mereka tidak tau cara mengontrol emosi. Mereka bisa tiba-tiba meledak. Mengapa? Karena mereka sedang mengalami perubahan pertumbuhan. Biasanya anak dianggap tidak sopan jika bicara keras dengan orang tua bagi budaya kita di sini. Tetapi ini tidak merubah fakta bahwa anak mengalami perubahan ketika bertumbuh remaja. Sehingga ia tidak bisa memproses dengan baik, tidak bisa menemukan kalimat yang ia cari, akhirnya ia emosi dan tidak tahu cara mengeluarkannya dengan positif atau secara dewasa. Sebagai orang tua harus mengerti hal ini.

 

Saya melihat ada kompromi antara Barat dengan Asia. Keluarga saya punya kedua pihak ini sehingga bisa bekerja sama, itu adalah anugerah Tuhan pada kami. Kedua orang tua, papa dan mama harus menjadi tim untuk menyembuhkan virus masa remaja pada anak mereka.

 

Empat gejala di atas adalah fakta yang harus dihadapi. Kabar buruknya virus masa remaja bisa fatal dan tidak ada vaksin. Hubungan orang tua dan anak bisa fatal jika tidak ditangani dengan baik. Sama dengan virus Covid, dari semua yang terpapar hanya segelintir orang yang meninggal karena virus ini. Demikian juga dengan hubungan orang tua dan anak yang telah terpapar virus masa remaja ini juga bisa dipulihkan kembali.

 

Setiap anak akan mengalami ini, hanya ada gejala yang besar, ada yang gejala ringan. Masalah orang tua adalah cara menanganinya. Saya lihat ada 4 pola yang biasa dilakukan orang tua:

  1. Tuntut kesempurnaan. Orang tua menuntut anak untuk menjadi sempurna. Akhirnya ketika anak tidak sempurna, orang tua akan merasa gagal. Memang manusia tidak sempurna, tidak ada seorangpun yang sempurna. Kita tidak harus menuntut kesempurnaan kepada anak, tetapi yang harus dituntut adalah kualitas (excellence). Kita mau menuntut anak menjadi sempurna tetapi kita harus mengerti prosesnya itu messy (kacau). Akibat dari menuntut kesempurnaan adalah masalah psikologis di kemudian hari.
  2. Menyuap anak supaya menurut. Di Amerika, anak ingin mendapatkan SIM menyetir dan seorang ayah seringkali membeli mobil untuk anaknya supaya anaknya pergi ke sekolah sendiri. Tanda anaknya sudah mandiri. Di sini kita lihat, orang tua suka memberi kepada anaknya supaya anaknya senang kepada orang tua. Pemberian ini menggantikan hubungan relasi orang tua dan anak. Akibatnya, anak tidak mengenal orang tua dengan baik dan supaya orang tua tetap di sukai, mereka akhirnya terus memberi sesuatu. Tetapi mereka tidak mau sama orang tua, mereka hanya mau uang orang tua.
  3. Orang tua menyelesaikan semua masalah anaknya. Dalam masa ini, anak remaja harus bisa berjuang sendiri.
  4. Orang tua yang angkat tangan. Mereka menyerah dan tidak punya harapan. Mereka berharap bisa menolong anak mereka tetapi dunia ini bagaikan hutan dan mereka kehilangan cara akhirnya angkat tangan.

 

Inilah 4 reaksi yang biasa orang tua lakukan. Tetapi ada kabar buruk, ada juga kabar baik. Walaupun tidak ada vaksin, mereka dapat dipulihkan jika mengikuti protokol 8M:

  1. Menerima kenyataan. Orang tua harus menerima fakta bahwa anak tidak kecil lagi, mereka setengah dewasa. Masalahnya, setengah itu kadang-kadang setengah dewasa di mental tubuhnya masih anak, kadang-kadang tubuhnya dewasa mentalnya jadi anak, kadang-kadang mental kirinya itu anak kanannya dewasa. Kita tidak bisa menentukan. Setiap hari bisa berubah. Masalahnya, gaya memimpin orang tua tidak berubah. Orang tua menjadi over-parenting atau under-parenting, berlebihan mengatur anak atau sama sekali tidak mengatur anak. Tetapi ada cara yang berbeda yaitu menjadi mitra untuk mengarahkan hidup mereka.
  2. Memberi ruang. Mereka sangat berharap untuk menentukan gaya mereka sendiri dan mencari ke tempat lain. Salah satu penyakit orang tua mempersulit situasi karena gengsi. Orang tua tidak boleh cepat tersinggung, izinkan mereka punya ruang sendiri.
  3. Menyentuh. Anak memerlukan banyak sentuhan dari orang tua. Ironisnya, anak ingin menjauh dari orang tua, tetapi di dalam hati mereka ingin dekat dengan orang tua. Mereka menjadi bingung. Maka orang tua perlu memaksa diri dengan halus dan kreatif. Anak perlu dipeluk setiap hari, tetapi peluk anak berbeda dengan peluk ke anak remaja. Peluk yang singkat tetapi tetap ada sentuhan. Berikan diri hadir secara fisik, tetapi tetap beri ruang kepada mereka. Itu akan membuka peluang komunikasi dengan anak.
  4. Meluangkan waktu. Orang tua harus hadir di dalam hidup mereka. Hadir secara fisik, bukan hadir digantikan oleh benda. Anak perlu melihat kehadiran orang tua, supaya anak sadar bahwa orang tua tidak menolak anak dan siap menerima dia. Kemudian yang paling penting adalah hadir pada saat anak ada di dalam pergumulan hidupnya secara psikologis yaitu secara empati. Jika orang tua tidak memberikan diri secara empati, perasaan emosi yang dialami anak akan dipendam sampai mereka dewasa. Ini bisa menimbulkan depresi. Contoh meluangkan waktu untuk anak: melakukan hobi mereka, membantu PR mereka, membuka rumah kepada teman-teman mereka, santai bersama, makan bersama, dll. Mengapa harus begini? Karena anak zaman sekarang mengalami hal yang orang tua tidak alami: adanya pandemi, adanya gadget, adanya sosial media, dll.
  5. Menetapkan harapan. Orang tua harus memutuskan dan menjelaskan harapan atau ekspektasi orang tua. Demikian juga sebaliknya ada timbal balik dari anak, yaitu apa harapan atau ekspektasi dia. Banyak masalah komunikasi karena masalah ekspektasi. Kalau kita tidak menetapkan atau mendefinisikan harapan/ekspektasi, kita akan kecewa. Salah satu kalimat yang seringkali menyakiti hati anak: “Waktu saya umurmu, saya begini. Kamu seharusnya bisa begitu juga.” Kita harus menyadari bahwa zaman sekarang itu berbeda dengan zaman dahulu.
  6. Mendengar. Kita harus mendengar mereka dengan baik. Masalahnya di zaman ini, anak remaja sering berpikir bahwa orang tua tidak relevan dan orang tua merasa anak tidak mengerti. Contohnya, zaman dahulu, orang tua hampir tidak ada masalah atau isu LGBT, tetapi sekarang masuk SMA – kuliah, semua diindoktrinasi masalah LGBT. Kalau saya dahulu, masalah LGBT itu dosa. Selesai. Tidak ada yang berani mengatakan diri ‘gay’. Sekarang semua bangga. Orang tua berkata LGBT itu dosa, namun saat anak datang ke sekolah jadi berbeda pendapatnya. Itu sebabnya orang tua harus menolong mereka mengatasi keberbedaan budaya ini. Orang tua harus belajar mendengar dan membungkam mulut. Jika saat anak terbuka akan masalahnya namun yang orang tua berikan hanyalah kritikan dan komentar, mereka akan langsung menutup diri dan tidak lagi mau berbicara tentang masalahnya kepada orang tua. Bagaimana menjadi pendengar yang baik: (1) Jangan bicara; (2) Ulangi kembali perkataan anak; (3) Terus berusaha membuat dia berbicara dengan kita.
  7. Merendahkan diri. Kita berusaha menciptakan orang dewasa supaya anak menjadi sempurna. Pada saat yang sama, anak melihat orang tua yang tidak sempurna. Orang tua harus merendahkan diri untuk menerima kenyataan bahwa orang tua tidak sempurna dan akan diketahui oleh anak. Ketika anak melihat orang tua mereka tidak sempurna tetapi orang tua selalu membela diri, mereka akan melihat orang tua mereka munafik. Tetapi ketika orang tua melakukan tindakan yang salah, orang tua perlu merendahkan diri, minta maaf. Mereka perlu lihat bahwa orang tua adalah orang berdosa yang diampuni oleh Tuhan. Dan karena tahu posisinya di dalam Kristus, maka mereka berani menghadapi kelemahan. Jangan biarkan gengsi, menjadi penghalang hubungan kita dengan anak dan juga kepada Tuhan, sesama manusia: istri, suami, anak.
  8. Menggembalakan. Orangtua harus memikirkan apa yang bisa kita lakukan terhadap anak kita, kita harus melihat anak kita sebagai domba yang harus digembalakan. Waktu kecil, mereka bergantung kepada kita, namun ketergantungan itu akan berubah menjadi tidak bergantung seiring dengan pertumbuhan mereka. Pada saat transisi, mereka akan merasa berkuasa, ‘aku sudah mandiri’. Independent adalah fantasi. Tujuan yg tepat adalah interdependency, kesalingbergantungan. Hubungan orang tua dengan anak yang baik adalah sebagai mitra, yaitu hubungan kasih untuk memperbesar kerajaan Allah. Seperti Layangan, terbang tetapi masih ada keterkaitan, perlu ada orang tua yg menolong dan menggembalakan.

 

Ringkasan Khotbah oleh TG dan ER

 

Youtube Sekolah Kristen Calvin
https://youtube.com/SekolahKristenCalvinJakarta/

Youtube Sekolah Kristen LOGOS
https://www.youtube.com/c/SekolahKristenLOGOS/

 

#SeminarOrangTuadanGuru

#SekolahKristenCalvin #SekolahKristenLOGOS

#SekolahKehidupan #MembentukHati

#MemperbaruiAkalBudi #MenanamkanTanggungJawab

 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

//
//
Admin

Tim dukungan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!