Sola Scriptura, Tradisi & Remaja Masa Kini

Seminar Orang Tua dan Guru dalam rangka Hari Reformasi
Pdt. David Tong

 

Pada tahun 2020, hasil sensus jumlah penduduk Indonesia berjumlah 270.20 juta jiwa, dengan keterangan naik 32.56 juta jiwa dibandingkan pada tahun 2010. Yang menarik lainnya adalah dari 270.20 juta jiwa, mayoritas penduduk Indonesia adalah Gen Z. Gen Z sendiri mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. Lahir pada tahun 1997-2012 (9-24 tahun).
  2. Tahun 2025: 25% populasi APAC (Bersama dengan Gen Y dan Z menjadi 50% populasi).
  3. Mereka mengalami masa dewasa (adulthood) di masa pandemi.
  4. Mereka lahir di dalam keluarga yang dysfunctional dan non-traditional households. Artinya, rumah tangga yang tidak harmonis: misalnya orang tua terbiasa dengan perceraian (dysfunctional); orang tua bukan lagi laki-laki dan perempuan, tetapi laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan (non-traditional households). Ketidakharmonisan sebuah keluarga ini banyak menyebabkan Gen Z tidak mau menikah.
  5. Digital natives. Mereka lahir pada masa teknologi serba digital. Tanpa diajari dan dilatih untuk menggunakan teknologi, mereka cepat mengerti cara mengoperasikannya. Di sini peran orang tua wajib memantau dan mengarahkan anak supaya bisa menggunakan dan menyaring informasi dengan baik.
  6. Teknologi. Mereka sangat sensitive dengan perkembangan teknologi dan sebagainya.
  7. Informasi (internet). Mereka peka sekali dengan informasi. Banyak sekali informasi yang mereka miliki. Pertanyaan apapun, mereka hanya tinggal Google saja. Tetapi tidak segala sesuatu informasi yang mereka temukan itu worth keeping atau layak disimpan.
  8. Dialogers. Mereka mungkin secara positif terbuka dan menentukan nilai. Mereka lebih suka berbicara.
  9. Obsesi dengan hal yang “baru” (tren, dll). Mereka cenderung kurang kritikal terhadap hal yang baru.
  10. Conformity dan Non-conformity. Mereka dengan mudahnya mengadopsi hal yang baru (Confirm), tetapi mereka kritikal dengan hal yang lama seperti tradisi (non-conformity).
  11. Mereka tidak bisa mendefinisikan diri mereka sendiri (undefined ID).
  12. Post-Christian dan Post-Church Era.
  13. Unreached people group. Mereka adalah kelompok yang memerlukan bantuan kelompok umur yang lain untuk menjadi “Kristen”. Mereka tidak bisa secara mandiri membangun “gereja”. Kemudian mereka adalah grup yang paling tidak Kristen. Kemungkinan, tanpa bantuan dari generasi yang lain, mereka tidak bisa bertahan. Inilah yang menjadi ladang misi kita.
  14. Empiris. Segala sesuatu mereka pikirkan, oleh karena itu mereka menjadi orang yang ahistorical. Mereka tidak begitu terikat dengan masa lalu. Apa yang dialami 2 hari yang lalu saja mereka tidak terlalu pentingkan, apalagi 2000 tahun yang lalu.

 

Beberapa waktu yang lalu saya melakukan survey: Seberapa pentingkah Alkitab dalam hidup gereja? Hasilnya 99.32% menyatakan ‘penting’. Kemudian pertanyaan selanjutnya: Seberapa pentingkah Tradisi dalam hidup gereja? Hasilnya bervariasi, jika dirata-ratakan sekitar 7 koma (,) sekian. Tidak sepenting dengan Alkitab.

 

Keberatan Terhadap Tradisi

  1. Enlightenment: memegang tradisi berarti tunduk pada otoritas asing.
  2. Tradisi melawan pekerjaan Roh Kudus yang dinamis. Namun Roh Kudus bukanlah Roh yang liar (PIW 1.10) -> Hakim tertinggi hanyalah Roh Kudus. Roh Kudus tidak bergerak liar atau dinamis di luar Alkitab.
  3. Tradisi tidak progressive, sedangkan kebenaran Allah harus berkembang dan progressive. Namun tidak semua hal perlu berkembang atau berubah. Contohnya, kesetaraan Allah Bapa dan Allah Anak, ini tidak perlu diperdebatkan lagi, ini merupakan kebenaran yang hakiki. Bahkan Wahyu Allah juga tidak selamanya progressive.
  4. Mereka salah mengerti mengenai Sola Scriptura. Apa maksudnya Sola Scriptura? Saya akan menjelaskan dengan menarik sebuah garis dengan titik di kiri, tengah dan kanan. Pada titik pertama atau yang paling kiri, namanya Nulla Scriptura (karismatik, liberal; tidak menganggap Alkitab itu penting). Pada titik tengah, Sola Scriptura. Kemudian pada titik terakhir atau titik yang paling kanan, Solo Scriptura (karismatik, independent churches; menolak tradisi). Reformed itu ada di bagian Sola Scriptura (tengah).

Gereja Roma Katolik mempunyai pernyataan bahwa kitab suci dan tradisi suci harus diterima dan dihormati dengan kesalehan dan hormat yang sama. Maka saya menarik sebuah garis, gereja-gereja yang mementingkan tradisi lebih dari Alkitab atau mensejajarkan tradisi sama dengan Alkitab berada di antara Nulla Scriptura dan Sola Scriptura.

Alkitab: the norming norm that is not normed. Sola Scriptura: Alkitab sebagai norming norm, bukan satu-satunya norm. Tradisi: normed norm.

Kalau anak kita hanya diajarkan menghargai Firman Tuhan dan tidak pernah diajarkan ‘tradisi’ bagaimana Tuhan bekerja di dalam sejarah, maka mereka bisa melahirkan interpretasi yang liar. Apalagi mereka mendapatkan informasi yang sebebas-bebasnya dari internet.

Tradisi pun anugerah Tuhan di dalam gereja. Tradisi juga harus diperiksa dengan standar Alkitab. Kemudian tradisi ini menjadi pagar agar interpretasi-interpretasi tidak keluar atau liar.

 

Sola Scriptura

  1. Bukan berarti Alkitab dapat dipisahkan dari pekerjaan Allah dalam sejarah.
  2. Bukan berarti penolakan terhadap seluruh tradisi, melainkan tradisi harus ditundukkan kepada kebenaran Alkitab.
  3. Berarti Alkitab adalah otoritas tertinggi di mana seluruh kontroversi agama harus ditentukan.
  4. Berarti Alkitab adalah penafsir Alkitab yang tertinggi.

Alkitab dan Sejarah

  1. Pernyataan Allah di dalam sejarah.
  2. Pernyataan Allah melalui proses sejarah: (a) Alkitab: tidak diturunkan dari surga, atau didiktekan, (b) Kanonisasi Perjanjian Baru: abad ke-4 Masehi.
  3. Pernyataan Allah melalui manusia dalam sejarah. Ditulis oleh 40 manusia berdosa selama 1500 tahun, tanpa mengabaikan sisi manusia. Dengan inspirasi, bukan dikte mekanis. Diilhamkan lebih cocok diganti menjadi inspirasi (dinafaskan). Dari Bahasa Yunani adalah dinafaskan.

Nikea Konstantinopel:

  1. Menghasilkan Pengakuan Iman Nikea.
  2. Melawan Arianisme yang mempertanyakan hakekat Allah Anak. Allah Anak disebut memiliki permulaan (There was a time the Son was not). Pada tahun 1550, ada Michael Servetus yang tidak percaya pada Allah Anak sebagai Allah yang kekal. Zaman modern sekarang, ini sama dengan Saksi Yehova.
  3. Konsili Nikea menekankan kesamaan Allah Anak dan Allah Bapa.
  4. Arius dibuang ke Ilirikum, tapi ini bukan solusi, sehingga konsili nikea kedua masih diterbitkan lagi.

Konsili Kalsedon:

  1. Menghasilkan Pengakuan Iman Kalsedon.
  2. Mengajarkan: Kristus sempurna dalam manusia dan Allah, sama sempurna dalam keilahian. Kemanusiaan Kristus sama dengan manusia, dan yang membedakan hanyalah Kristus tidak berdosa.
  3. Mengafirmasi Allah Anak sehakekat dengan kita manusia.
  4. Mengafirmasi Allah berinkarnasi memiliki dua natur yang disatukan menjadi satu Pribadi.

 

Apa yang perlu ditekankan kepada anak-anak remaja kita?

  1. Kekristenan tidak terlepas dari sejarah. Tradisi gereja adalah Tuhan bekerja dalam gereja. Pengakuan iman adalah klaim atas Tuhan yang bekerja di dalam sejarah. Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari sejarah, melainkan berakar dari dan di dalam sejarah.
  2. Tuhan menggunakan waktu agar gereja dapat bergumul. Tuhan sabar menunggu gereja dan manusia bergumul. Tuhan tidak terburu-buru. Ini penting di zaman yang serba instan ini. Tuhan izinkan anak Tuhan bergumul dalam waktu. Waktu itu indah dan Tuhan menggunakan waktu.
  3. Pengakuan Iman dan pembentukan remaja. Yesus pun bergumul dalam ketaatan. Yesus pun belajar untuk dalam pergumulan terus taat.
  4. Kita belajar bahwa ada yang benar dan harus diperjuangkan. Tidak semuanya open minded. Ada yang benar dan harus diperjuangkan, yaitu kebenaran yang absolut dan hakiki.
  5. Kita inklusif tapi juga eksklusif. Tuhan Yesus merangkul, sangat inklusif. Tapi dia juga eksklusif, menolak kejahatan orang Farisi. Inklusivitas: semua orang berdosa diterima ke dalam kerajaan Tuhan, TAPI harus ada pertobatan, ini adalah syaratnya.

 

Ringkasan oleh TL, VV, dan YW.

 


 

“SOLA SCRIPTURA, TRADISI & REMAJA MASA KINI”
Pembicara: Pdt. David Tong

TERBUKA UNTUK UMUM!

Sabtu, 23 Oktober 2021
Pkl. 16.00 WIB


Kanal Youtube
Sekolah Kristen Calvin
https://www.youtube.com/c/SekolahKristenCalvinJakarta/
Sekolah Kristen LOGOS
https://www.youtube.com/c/SekolahKristenLOGOS/


————
#SekolahKristenCalvin
#SekolahKristenLogos
#SekolahKehidupan
#MemperbaruiAkalBudi
#MembentukHati
#MenanamkanTanggungJawab
#SOTG
#SeminarOrangTua
#SeminarGuru
#Reformasi
#SolaScriptura

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

//
//
Admin

Tim dukungan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!